Posts

Showing posts from November, 2019

Puisi - Kemurnian Yang Telah Lenyap

Kemurnian yang Telah Lenyap Kini air laut yang biru itu telah berubah wujud Menjadi lebih warna-warni Bukan terhias dengan warna-warni bunga yang anggun Bukan pula hasil sinaran langit senja yang menjingga Plastik-plastik yang bertebaran dengan bebasnya Menumpuk menutupi permukaan Ya.. Permukaan kepolosan lautan yang biru Sungai-sungai tak lagi menyebarkan harum yang menenangkan Aroma busuk menyengat menjadi pengganti Bukan.. Bukan karena ia telah bosan membagikan ketenangannya Dan bukan pula telah lelah mengalirkan air kehidupannya yang menyejukkan Kini tak lagi bisa mengalir dengan liar Kini tak bisa lagi mengalir dengan riang Sumbatan sampah-sampah itu kini jadi penghalang Menodai jernihnya sang mata air sumber kehidupan Nasib serupa juga dialami oleh kawannya Para barisan pohon yang tak lagi menghiasi Yang tersisa hanyalah hamparan bumi yang gundul Jutaan makhluk yang tak sanggup bertahan hidup Tak mampu melawan ganas nya perubahan Sem...

Puisi - Sinar Bulan Purnama Menjadi Cahaya

Sinar Bulan Purnama Menjadi Cahaya Di kala senja menenggelamkan diri dengan sempurna Langit gelap menyelimuti Deburan ombak mulai meninggi Menyapu pantai dengan air laut Lentera-lentera mulai menerangi Membantu tugas para bintang dalam menerangi Sinar bulan bulan purnama menjadi cahaya Menggantikan tugas mulia sang mentari Petikan gitar mulai dimainkan Sebagai upaya penghilang lara Mengusir sunyi nya malam Agar kegundahan tidak menyerang Hembusan dinginnya angin malam Terasa membelai raga Kilauan bintang-bintang yang bertaburan Tersebar bebas sebagai perhiasan atap alam Kobaran api obor yang membentuk pagar Berbaris rapi di tepi pantai Bertugas sebagai peramai kesunyian malam Jauh dari hiruk pikuk nya perkotaan Menenangkan jiwa dari kepenatan Sunyi sepi nan damai Jauh dari hingar bingar

Puisi - Buliran Pasir Menyambut Fajar

Buliran Pasir Menyambut Fajar Kokokan ayam memeriahkan penyambutan datangnya sang mentari Menggema.. Menggelora.. Sebagai perlambang semangat pagi Lekukan garis pantai bergelombang indah Membentang sepanjang gugusan pulau Buliran pasir menyambut fajar Yang siap memulai hari baru Hembusan angin pagi yang sejuk Jejeran nyiur yang menari dengan eloknya Keanggunan alam yang terlahir alami Lukisan langit biru yang perlahan mulai cerah Disusul dengan iringan awan bersih yang mempesona Sinar-sinar penghangat kehidupan perlahan mulai terbit Tersenyum cerah menyinari Mengukir biasan diatas luasnya lautan Bagai permadani bertahtakan berlian Coklat keemasan pasir pantai yang tersebar Bagaikan selimut lembut melindungi sang pulau Batu-batu karang nan kokoh Berdiri gagah menunjukkan diri Para nelayan mulai berdatangan Mempersiapkan diri mencari peruntungan Perahu-perahu sumber kehidupan Bertengger beraturan di pinggir pantai Ketika jangkar mulai...

Puisi - Dikala Senja Tiba

Di Kala Senja Tiba Termenung melihat kearah hamparan lautan nan biru Angin semilir yang datang bergilir Kepakan sayap segerombolan burung-burung hilir mudik mencari suaka baru Goresan garis jingga itu mulai terlihat Datang bersamaan dengan rona merah yang merekah Langit biru cerah perlahan mulai bergegas Siap berganti dengan sang malam Di kala senja tiba Deburan ombak semakin pasang menunjukkan geloranya Anak-anak kecil berjiwa suci Dengan riang mengiringi tenggelamnya mentari Awan-awan putih sejenak menyembunyikan diri Memberi kesempatan untuk si jingga menari Lambaian pohon kelapa Sebagai tanda perpisahan kepada sang mentari Tidak.. Tidak akan lama.. Si senja yang hanya sementara Sementara menghias cakrawala Tak ada sekejap mata Ia pun perlahan undur diri Goresan jingga yang menyinari bibir pantai Perlahan mulai tenggelam

Puisi - Air Terjun Membelah Gunung

Air Terjun Membelah Gunung Derasnya bukan karena amarah Ricuhnya bukan karena kecewa Terjun bebas membentuk tirai air yang deras Seluruh bulir air yang dimiliki, tiada henti ia curahkan Menghantam bebatuan yang keras Tapi tak akan membuatnya menyerah Terus mengalir melewati badan sungai Agar sang samudera bisa tercapai Air Terjun membelah gunung Hanya ia yang berani melakukannya Curahan deras yang mengalir dari ketinggian Menjadi berkah kehidupan Bisingnya suara air yang mengalir Seolah tak sabar memeriahkan kehidupan Siap menghapuskan segala kehausan

Puisi - Mata air Penyejuk Kehidupan

Mata Air Penyejuk Kehidupan Dari hulu ke hilir Ia mengalir tanpa lirih Germercik air ditengah sunyinya hutan pinus yang menjulang tinggi Putaran air kehidupan yang tiada henti melakukan tugasnya Tiada habis ia curahkan Basahnya selalu dinanti di kala kemarau tiba Mengalir dengan beriringan Dari puncak gunung turun menyusuri bukit Melewati para pohon-pohon yang selalu setia menjaganya dari longsor Menyirami petak demi petak sawah Demi menjaga manusia dari kelaparan Hewan-hewan kecil berlarian dengan riang Dengan bebas melepas dahaga Mata air sumber kehidupan Kepadanyalah seluruh hidup digantungkan Janganlah sampai mengering Bisa gundah bumi ini Karena Tanpa alirannya yang membasahi Tiada kehidupan yang dapat dilalui

Puisi - Udara Sejuk yang Murni

Udara Sejuk yang Murni Pepohonan yang berdiri membentuk barisan Dengan setia melakukan perannya sebagai penjaga Berjajar beriringan bergenggam akar demi akar Memperkuat pertahanan tanah yang terbentuk menjadi tebingan Mencengkram sekuat tenaga Dengan gagah berani sebagai penopang Sang penghasil udara sejuk yang murni Sang pelindung dari panasnya sengatan matahari siang Rumah bagi burung-burung riang para penghasil kicauan Lekuk tubuh gunung yang curam Tak akan runtuh, kuat digenggam Bunga-bunga pegunungan yang anggun Bermekaran memberi rona warna diantara suburnya hijau pepohonan Gemercik sungai jernih yang mengalir Hembusan udara murni yang sejuk Tak perlu mahal untuk mendapatkannya Dijaga Ya hanya dengan dijaga Dijaga dari tangan-tangan yang tak merasa dosa karena membuat kerusakan

Puisi - Keindahan Panorama Karya Tuhan

Keindahan Panorama Karya Tuhan Barisan gunung-gunung nan megah Terlihat hijau menyejukkan Batu-batu yang berbaris mengisi badan sungai Mengiringi jauhnya jarak perjalanan menuju samudera Berdiri kokoh Tak sedikitpun tergoyahkan oleh derasnya aliran air Aliran air sungai yang berpacu deras Demi bermuara kepada samudera Sepanjang mata memandang Tak henti-henti nya kekaguman yang terpancar Betapa luar biasa hasil karya Mu Oh Tuhan.. Sang Pemilik dan Pencipta Luasnya milyaran butir pasir yang membentang Berkilauan keemasan Membentuk garis pantai yang elok Sesekali deburan ombak menyapanya Membasahi dari keringnya sinaran matahari Birunya air laut Menjadi warna pelengkap keindahan Terpancar kilaunya permukaan air yang disinari oleh sang mentari

Puisi - Biarlah Alam Menjadi Kawan

Biarlah Alam Menjadi Kawan Jutaan kehidupan berjuang mendapatkan kehidupan Para rusa kecil yang berkeliaran Bersemangat mengejar para dedaunan Kumpulan semak-semak yang bergerumul itu adalah surga Mulai dari si kepik yang berterbangan Sampai si kelinci yang berloncatan kesana kemari menggantungkan hidup padanya Aliran sungai jernih nan murni Sebagai sumber pelepas dahaga Tingginya barisan para pohon tua Entah berapa puluh tahun usianya Atau mungkin ratusan Disanalah rumah sekawanan monyet riang Bergelantungan dari dahan ke dahan Mencari buah yang dihasilkan oleh si pohon yang maha bijaksana Indah.. Sungguhlah indah.. Biarkanlah tetap berjalan semestinya Keindahan yang terukir alami Tapa sedikitpun tersentuh kepalsuan Biarlah alam menjadi kawan Biarlah alam menjadi rumah
CERITA : Seperti halnya ketika menyaksikan Habibie dan Ainun, Soegija,juga Sang Kyai, saya melepaskan pandangan politik menyaksikan Jokowi.Maksudnya agar bisa menikmati film yang disutradarai oleh Anzhar Kinoi Lubis sekaligus juga mendapatkan “sesuatu” yang biasa dibawa pulang, selain hiburan. Sekalipun berbeda dengan ketiga film di atas, harus diakui Jokowi punya magnitut karena dia adalah figur Gubernur DKI Jakarta yang sedang menjabat, bukan seperti Habibie sudah lepas dari kekuasaan politik. Hasilnya, separuh film ini yang menceritakan bagian Jokowi masa kecil merupakan bagian yang paling menarik.Sutradara cukup detail, misalnya dalam menggambarkan situasi Surakartapada 1961. Adegan pembukaan ketika Notomiharjo (Susilo Badar)tergesa-gesa menaiki sepeda onthelnya, dengan termos air masa itu berwrana merah (buatan RRC) melintasi pasar bersamaan dengan penggusuran pamong praja terhadap pedagang kaki lima.Notomihardjo sendiri sempat hendak ditangkap, padahal istrinya hendak me...
JUDUL : " JOKOWI " KOMENTAR : Menurut saya film “jokowi” ini merupakan film yang bagus dan sangat inspiratif bagi kita semua. Namun, seindah apapun suatu karya seseorang, pasti tidak akan pernah lepas dari suatu kesalahan sekecil apapun itu. Nah, ada beberapa hal yang ingin saya sampaikan tentang film ini Pemeran jokowi dalam film ini kurang persis dengan bapak jokowi yang asli dari postur tubuh dan wajahnya namun dari gaya bicaranya sudah terlihat mirip. film ini lebih banyak mengkisahkan tentang bagaimana perjuangan ayah jokowi untuk mengantarkan anaknya agar mampu menjadi orang sukses sebagaimana sekarang ini, namun bagaimana usaha jokowi untuk meraih posisinya itu tidak begitu di fokuskan. Kisah asmara antara jokowi dan iriana hanya ditayangkan begitu singkat, langsung menjadi keluarga dan memiliki anak sehingga kurang memuaskan bagi penonton. Ending dari film ini menurut saya kurang pas karena ketika jokowi kecil ceritanya begitu runtut namun ketika sudah suk...

Puisi - Kicauan Burung di Pagi Hari

Kicauan Burung di Pagi Hari Biasan warna kuning keemasan itu perlahan mulai masuk melalui pori-pori kaca jendela Sang mentari sumber kehangatan perlahan memperlihatkan diri Butiran air embun pagi berkilauan diatas hijaunya padang rerumputan Menetes perlahan membasahi ibu bumi Jajaran pepohonan menari dengan lembut dan anggun Diiringi oleh syahdunya angin yang bertiup Berlenggok ke kanan dan ke kiri Semakin memeriahkan penyambutan datangnya sang pagi Rembulan sudah tak menampakkan diri Ikhlas Mengalah untuk sang mentari Semilir udara pagi Membangunkan bulu roma yang tertidur lelap sedari tadi Bentangan kanvas langit biru cerah Seluas mata memandang Disanalah terlukis indah Para kumpulan awan putih yang suci Ranting-ranting yang mulai tumbuh Sebagai tanda datangnya kehidupan baru Disanalah Menjadi tempat berkumpulnya para ahli paduan suara Kicauan burung di pagi hari Musik alami pemberian sang Maha Kuasa Rimbunnya semak-semak belukar Me...

Manusia dan Kebudayaan

Manusia dan Kebudayaan A.  MANUSIA             Dalam ilmu eksakta, manusia dipandang sebagai kumpulan dari partikel-partikel atom yang membentuk jaringan-jaringan sistem yang dimiliki oleh manusia (ilmu kimia), manusia merupakan kumpulan dari berbagai sistem fisik yang saling terkait satu sama lain dan merupakan kumpulan dari energi (ilmu fisika), manusia merupakan makhluk biologisyang tergolong dalam golongan makhluk mamalia (biologi).  Dalam ilmu-ilmu sosial manusia merupakanmakhluk yang ingin memperoleh keuntungan atau selalu memperhitungkan setiap kegiatan, sering disebut homo economicus (ilmu ekonomi), manusia merupakan makhluk sosial yang tidak dapat berdiri sendiri (sosiologi), makhluk yang selalu ingin mempunyai kekuasaan (politik) makhluk yang berbudaya, sering disebut homo-humanus (filsafat), dan lain sebagainya. Ada dua pandangan yang akan kita jadikan acuan untuk menjelaskan tentang unsur-unsur ...